Home REVIEW DualSense Wireless Controller, Kontroler Next Gen Terbaik?

DualSense Wireless Controller, Kontroler Next Gen Terbaik?

dualsense wireless controller fotut 2

tabloidpulsa.id – Sebelum membahas playstation 5 atau PS5 secara keseluruhan, kita awali rangkaian tulisan ini dengan membahas kontrolernya terlebih dahulu. Kontroler yang disebut dengan DualSense Wireless Controller ini dirilis sebagai kontroler untuk konsol anyar mereka Playstation 5, menggantikan kontroler DualShock yang setia menemani hingga beberapa generasi sebelumnya.

DualSense Wireless Controller disebut-sebut sebagai kontroler yang menjadi pembeda. Mampu memberikan fitur yang lebih baik dari kontroler konsol satu generasi lain dari kubu Microsoft, juga meningkatkan pengalaman dari kontoler lawas, DualShock. Kok bisa?

Perubahan pada Desain

Jika kita flash back ke kontroler DualShock yang telah setia menjadi kontroler dari PS1 hingga PS4 dengan 4 versi berbeda,  kita akan menemukan inti desain yang sama. Hal ini bisa dilihat dari pemilihan material, desain tekstur plastik, bentukan grip, tata letak tombol, termasuk bentukan tombol picu (trigger) dan dua thumbstick yang diletakkan sejajar di bagian bawah.

via Sony Playstation

Kini, bersamaan dengan diluncurkannya PS5, Sony memperkenalkan desain kontroler anyar yang penuh dengan fitur pembaharu melalui seri DualSense yang menjanjikan.

DualSense kini dibuat lebih membulat dibandingkan DualShock. Anda bisa melihatnya di bagian sisi kanan dan kiri atas, juga pada kedalaman grip yang membuatnya lebih nyaman digenggam. Ditambah bobot yang kian tinggi, alias lebih berat, maka kontroler ini lebih memberikan stabilitas sekaligus memunculkan kesan padat dan tahan lama.

ilustrasi mudah kotor

Tekstur grip dibuat sedikit kasar. Yang kalau diperhatikan secara seksama merupakan kumpulan dari logo-logo x, kotak, bulat dan segitiga yang saling bertumpuk. Membuatnya menjadi kesat saat bermain berlama-lama, tapi sayangnya juga menjadi magnet bagi kotoran tangan kita. Mudah berubah warna menjadi hitam.

Touch pad yang menjadi fitur unggulan DualShock 4 kembali hadir dalam area yang lebih luas dan efektif, diapit oleh tombol option di sebelah kanan dan tombol create di sebelah kiri. Layout yang selama ini sudah kita kenal lewat DuaShock 4.

Sebagai tambahan, kini logo Playstation disajikan tidak lagi dalam bentuk tombol membulat, melainkan sebuah logo yang menonjol ditemani sebuah tombol mute yang diletakkan di antara dua Thumbstick.

Tambahan Built In Mic

Kok ada tombol MUTE? Ya, salah satu fitur baru di DualSense adalah build in Mic. Menemani hadirnya speaker kecil di bagian kontroler, kini kita bisa mendapatkan mic untuk bercakap dengan teman via party chat. Atau sebagai salah satu mode input.

Hal ini menjawab pertanyaan mengapa di paket penjualan PS5 tidak lagi ditemukan earset, seperti pada PS4. Dan terbilang praktis untuk Anda yang tidak berniat membeli headset tambahan untuk bermain PS5.

Tetap dengan Baterai Rechargable

Selain tata letak thumbstick, penggunaan jenis baterai juga menjadi salah satu pembeda antara DualSense dengan Controller milik Xbox. Terlepas dari baik buruknya, DualSense Wireless Controller mempertahankan penggunaan baterai lithium yang bisa diisi ulang meggunakan kabel USB Type-C bawaan.

Kapasitas baterai lithium yang dibawa mengalami peningkatan dari versi terdahulu (DualShock 4) yakni 1560 mAh, dibandingkan 1000 mAh di versi sebelumnya.

via Sony Playstation

Secara default kita bisa melakukan charging melalui kabel USB to USB type C bawaan konsol, atau kita pun bisa membeli charging station yang dijual terpisah untuk mengisi daya hingga dua DualSense dalam satu waktu dengan lebih cepat dan mudah.

Haptic Feedback dan Adaptive Trigger

Nah ini dia fitur unggulan DuaSense. Sony memutuskan untuk mengganti motor getar alias rumble dengan aktuator. Memberikan efek getaran yang dinamis, berubah-ubah sesuai dengan apa yang ingin disampaikan oleh developer. Baik itu respon terhadap lingkungan sekitar, maupun respon terhadap obyek yang hadir dalam game.

Sebagai contoh nih, melalui game Astro’s Playroom misalnya, Sony seakan-akan ingin menunjukan pada semua developer di luar sana bagaimana memanfaatkan fitur ini untuk meningkatkan pengalaman ppengguna dalam bermain game di PS5.

Semisal saat Astro berjalan di atas pasir, getarannya akan berbeda dengan saat ia berlari di antara rerumputan atau di atas jalan berbatu. Beda banget! Feedback atau respon balik dari getaran ini seakan-akan menguatkan seberapa keras obyek yang kita injak atau yang mengenai badan kita.

Contoh lain khususnya untuk fitur Adaptive trigger, saat bermain FIFA21, tombol pace atau lari akan terasa lebih berat di akhir pertandingan, menyesuaikan stamina si player. Jadi bukan hanya efek tampilan yang lebih pelan saja, juga kita pun akan merasakan betapa sulitnya melakukan akselerasi dalam kondisi ini. Mau tidak mau kita harus melakukan pergantian pemain.

Di game berbeda, efeknya akan berbeda pula. Semisal saat bermain game balapan, maka adapative trigger ini akan membuat kita merasakan hentakan mesin saat melakukan pengereman mendadak. Atau di game FPS, kita akan merasakan perbedaan saat menembakkan dua senapan berbeda.

Saking menariknya fitur ini, XBOX sempat melakukan polling di media sosial menanyakan apakah fitur ini diharapkan hadir di kontroler XBOX juga atau tidak. Jawabannya tentu saja bisa ditebak.

Tombol Tanpa Warna dan Penurunan Kualitas?

Satu hal yang belum dibahas adalah keputusan untuk meghilangkan warna pada logo-logo di tombol kontroler ini. Terkesan elegan memang tapi jadi berbeda dengan generasi sebelumnya.

Tombol X, kotak, segitiga dan bulat diletakkan di dalam akrilik tembus pandang dengan warna dasar yang putih dengan warna juga yang relatif monoton. Demikian juga tanda panah yang ada di tombol d-pad.

Perbedaan signifikan yang kami rasakan saat menggunakannya sehari-hari dan head to head dengan Dualshock 4 dan XBOX controller anyar di Xbox Series S, tombolya terasa kurang begitu getas. 

Apa maksudnya? Tombol sih enak saat ditekan, namun terkadang tidak kembali ke posisi semula atau sebaliknya seakan menempuh dua kali perjalanan saat ditekan. Hal ini berlangsung hanya 2 minggu sejak pertama digunakan dengan pemakaian yang heavy. Sehingga kami berpikir mungkin ini hanya masalah penggunaan saja.

Sebagai perbandingan, sebaliknya di XBOX controller, kami merasakan tombolnya kerap tidak teregister dengan baik di sentuhan pertama karena terlalu dangkal alias cetek alias shallow. Jadi dua-duanya punya masalah yang sama…. Atau jari saya yang terlalu besar?

Masalah lain juga dilaporkan di internet, menyebutkan gejala drifting di DualSense. Kami sendiri belum merasakannya, karena belum bayak digunakan untuk game-game FPS dan Shooting yang kompetitif.

Harga dan Ketersediaan

DualSense Wireless Controller sudah menjadi bagian dalam paket penjualan PS5 garansi resmi Indonesia. Tapi karena hanya dibawain satu gaes, mungkin Anda harus membeli satu lagi agar bisa bermain bersama keluarga.

Hampir di semua reseller PS sudah tersedia DualSense terpisah dengan banderol saat ini berkisar antara 1,2 hingga 1,5 juta Rupiah. Jadi disayang-sayang ya gaes. Jagan dibanting-banting kalau emosi. Rage quit saja seperti teman saya. Hehehe…

Kesimpulan

Apakah DualSense Wireless Controller adalah kontroler konsol terbaik? Jika dibandingkan generasi sebelumnya saya yakin benar sekali. Sejumlah fitur tambahan, berhasil menambal kekurangan kontroler lama, sekaligus meningkatkan pengalaman bermain game sehingga mampu terjun ke dalam dunia virtual lebih dalam lagi.

Tapi DualSense juga punya kelemahan. Pertama ia tidak bisa digunakan untuk PSVR. Karena tidak lagi memiliki lampu di ujung stik yang dapat dikenali oleh kamera PS. Entah bagaimana nanti Sony mengatasi hal ini, apakah membuat ekosistem VR baru atau mengganti sistem pengenalan kontroler di kamera PS anyar.

Layout tombol dan thumbstick PS cukup menantang bagi mereka yang terbiasa bermain di Nintendo dan XBOX, yang letak thumbsticknya diagonal. Pengalaman pribadi, bagian bawah ibu jari kiri sering mengalami sakit ketika baru baru saja hijrah ke Playstation.

Lalu adaptive trigger juga tidak cocok, atau belum begitu dibutuhkan di beberapa game yang biasa saya mainkan. Jadi, kami lebih sering menonaktifkan efek trigger agar dapat bermain dengan nyaman. Jadi kontra produktif, bukan?

Tapi kami yakin ke depannya hal ini bisa diatasi dengan semakin bayak developer yang mengadopsi fitur ini di game-game baru mereka.

Previous articleSamsung Galaxy A02, Sejutaan & Serba Besar (Preview)
Next articleKolaborasi Huawei dan JD.id Lewat High-End Experience Store Terbaru
Bergabung bersama Pulsa sejak 2004. Reviewer, Tech enthusiast. Manga, anime, idol and fantasy lover.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here