tabloidpulsa.id – Memperingati World Sleep Day (Hari Tidur Sedunia) yang tahun ini bertepatan dengan bulan Ramadan, kesadaran akan pentingnya kualitas tidur menjadi semakin penting.
Banyak orang memulai Ramadan dengan semangat tinggi untuk beribadah sekaligus menjaga kesehatan, bahkan berharap berat badan bisa turun. Namun realitas yang sering terjadi justru sebaliknya.
Tubuh terasa lemas, fokus menurun, dan emosi menjadi lebih mudah terpancing.
Fenomena yang sering disebut sebagai “senggol bacok” ini ternyata tidak sekadar dipicu rasa lapar atau haus.
Berdasarkan penjelasan Garmin, penyebab utamanya berkaitan erat dengan gangguan ritme biologis tubuh dan kualitas tidur yang menurun selama Ramadan.
Circadian Misalignment dan Turunnya Kualitas Tidur REM
Banyak orang mengira rasa lemas dan mudah marah saat puasa hanya disebabkan oleh kurangnya asupan makanan.
Padahal, menurut Sleep Coach Garmin, Vishal Dasani, masalah utama justru berasal dari perubahan pola tidur dan waktu makan yang tidak selaras dengan jam biologis tubuh.
Kondisi ini dikenal dengan istilah circadian misalignment, yaitu ketidaksesuaian antara ritme biologis tubuh dengan aktivitas sehari-hari.
“Selama Ramadan, tantangan terbesar bukan hanya menahan lapar, tetapi bagaimana mengatur waktu tidur.
Data menunjukkan bahwa proporsi tidur REM (Rapid Eye Movement) bisa turun drastis dari normalnya sekitar 24% menjadi hanya 10% atau bahkan kurang,” jelas Vishal.
Fase REM merupakan fase tidur yang sangat penting untuk pemrosesan emosi dan fungsi kognitif.
Ketika fase ini berkurang drastis, tubuh akan mengalami berbagai dampak, seperti:
- Konsentrasi menurun
- Sulit berpikir jernih
- Performa kerja menurun
- Emosi lebih mudah tersulut
Tidak heran jika banyak orang merasa lebih sensitif dan mudah marah saat menjalani puasa.
Bahaya Pola Makan “Balas Dendam” Saat Sahur dan Berbuka
Selain kualitas tidur, pola makan juga berperan besar dalam menentukan kondisi tubuh selama Ramadan.
Banyak orang masih percaya bahwa mengonsumsi karbohidrat dalam jumlah besar saat sahur dapat menjadi “cadangan energi” sepanjang hari. Sayangnya, secara ilmiah pola makan ini justru bisa menjadi bumerang.
Marcomm Senior Manager Garmin Indonesia, Chandrawidhi Desideriani menjelaskan bahwa konsumsi karbohidrat olahan berlebih—seperti nasi putih dalam porsi besar, mi instan, atau minuman manis—dapat memicu glucose spike atau lonjakan gula darah.
Lonjakan ini biasanya diikuti dengan sugar crash hanya dalam beberapa jam.
Akibatnya, tubuh mengalami kondisi yang dikenal sebagai brain fog, dengan gejala seperti:
- Sulit fokus
- Tubuh terasa berat
- Kantuk berlebihan di pagi hari
Padahal, waktu pagi hingga siang adalah periode penting untuk produktivitas kerja.
Kesalahan lain juga sering terjadi saat berbuka puasa. Kebiasaan “balas dendam” dengan mengonsumsi makanan manis dan berat dalam jumlah besar membuat sistem pencernaan bekerja ekstra keras di malam hari.
Ketika tubuh masih sibuk mencerna makanan menjelang tidur, suhu inti tubuh tetap tinggi. Padahal untuk masuk ke fase deep sleep yang restoratif, tubuh membutuhkan suhu inti yang lebih rendah.
Akibatnya, meskipun tidur terasa cukup lama, tubuh tetap bangun dalam kondisi lelah.
Kondisi ini juga memicu sleep debt atau utang tidur yang sering membuat energi menurun di pertengahan Ramadan.
Garmin menyarankan untuk menghentikan konsumsi makanan berat minimal dua jam sebelum tidur agar sistem pencernaan dapat beristirahat dan tubuh bisa mendapatkan kualitas tidur yang lebih baik.
Tips Garmin Agar Tetap Bugar Selama Ramadan
Agar tubuh tetap bertenaga selama menjalani puasa, Garmin memberikan beberapa tips praktis berikut:
1. Prioritaskan Kualitas Tidur
Manfaatkan fitur Sleep Monitoring pada smartwatch Garmin untuk memantau kualitas tidur, termasuk fase deep sleep.
Jika memungkinkan, lakukan power nap sekitar 20 menit di siang hari untuk mengganti kekurangan tidur.
2. Pilih Nutrisi yang Tepat
Perbanyak konsumsi protein dan serat saat sahur agar energi bertahan lebih lama.
Hindari gula berlebih dan pertimbangkan minum elektrolit atau air kelapa untuk menjaga hidrasi tubuh.
3. Tetap Berolahraga
Olahraga tetap penting selama Ramadan. Waktu yang disarankan adalah 1–2 jam sebelum berbuka puasa dengan intensitas ringan hingga sedang. Hindari memaksakan tubuh jika kondisi tidak fit.
Garmin Gandeng Pokemon Sleep untuk Pengalaman Tidur yang Lebih Menyenangkan
Untuk mendukung kualitas istirahat yang lebih baik selama Ramadan, Garmin juga menghadirkan watch face terbaru bertema Pokémon Sleep yang bisa diunduh secara gratis melalui aplikasi Garmin Connect IQ Store.
Watch face ini dapat disinkronkan dengan aplikasi Pokemon Sleep sehingga pemantauan tidur menjadi lebih interaktif dan menyenangkan.
Fitur menarik dari Pokémon Sleep watch face antara lain:
1. Dua Pilihan Watch Face
Pengguna dapat memilih dua desain utama yaitu “Pokémon Sleep: Snorlax & Friends” yang menampilkan karakter seperti Bulbasaur, Charmander, Squirtle, Pikachu, dan Snorlax.
Atau bisa juga pilih “Pokémon Sleep: I Choose You” yang memungkinkan pengguna memilih satu dari 48 karakter Pokémon populer.
2. Karakter Dinamis Sepanjang Hari
Karakter Pokémon akan berubah ekspresi sepanjang hari, mulai dari ceria hingga mengantuk, mengikuti tingkat energi Body Battery pengguna.
3. Mode Persiapan Tidur
Mode malam akan aktif otomatis 1,5 jam sebelum jadwal tidur, membantu pengguna mempersiapkan waktu istirahat dengan lebih baik.
Fitur ini kompatibel dengan berbagai perangkat Garmin, termasuk seri fēnix, Forerunner, Venu, dan vívoactive.
Garmin percaya bahwa kualitas tidur memiliki peran penting bagi kesehatan, terutama ketika rutinitas harian berubah selama Ramadan.
Dengan manajemen tidur yang baik serta pemantauan melalui teknologi smartwatch, istirahat bukan sekadar “mematikan lampu”, tetapi menjadi fondasi kesehatan yang sering kali terlupakan.
Melalui inovasi seperti Pokemon Sleep, Garmin ingin mengajak pengguna menjadikan tidur berkualitas sebagai pengalaman yang menyenangkan sekaligus bermanfaat bagi kesehatan.
Cek berita teknologi terkini, review gadget, rekomendasi ponsel, tips & trick, tren lifestyle dan video tabloidpulsa.id di Google News.



