Home NEWS Fondasi Digital Indonesia Terancam Jika Keamanan Siber Tidak Segera Dibenahi

Fondasi Digital Indonesia Terancam Jika Keamanan Siber Tidak Segera Dibenahi

ManageEngine Keamanan Siber

tabloidpulsa.id – Transformasi digital Indonesia memasuki fase baru pada 2025. Jika sebelumnya fokus utama adalah percepatan adopsi dan ekspansi layanan, kini tantangan bergeser pada satu hal krusial: keamanan siber dan ketahanan fondasi IT nasional.

Ketergantungan terhadap sistem digital tak lagi bisa dipungkiri. Aktivitas ekonomi, layanan publik, hingga operasional perusahaan kini bertumpu pada infrastruktur digital.

Namun, di balik pertumbuhan tersebut, muncul pertanyaan besar: apakah fondasi keamanan siber Indonesia sudah cukup kuat untuk menopang fase pertumbuhan berikutnya?

Ekonomi Digital Tumbuh Pesat, Risiko Ikut Meningkat

Laporan e-Conomy SEA 2025 memproyeksikan nilai ekonomi digital Indonesia mendekati USD 100 miliar pada 2025, terbesar di Asia Tenggara. E-commerce, layanan keuangan digital, dan media online menjadi motor utama pertumbuhan.

Di sisi lain, data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan lebih dari 70 persen penduduk Indonesia telah mengakses internet pada 2024.

Angka ini menegaskan bahwa infrastruktur digital sudah menjadi bagian dari keseharian masyarakat.

Artinya, ketika terjadi gangguan sistem, kebocoran data, atau serangan siber, dampaknya bukan lagi sekadar isu teknis.

Gangguan tersebut bisa berimbas pada ekonomi, reputasi institusi, bahkan stabilitas sosial.

Inilah mengapa keamanan siber kini menjadi isu strategis, bukan sekadar persoalan IT internal.

Tantangan Tata Kelola dan Fragmentasi Sistem

Meski adopsi teknologi melaju cepat, kesiapan tata kelola digital belum sepenuhnya seimbang.

Baca Juga:  Masuki Update Terbaru, Diablo Immortal Precipice of Horror!

Sejumlah laporan internasional menyoroti masih terfragmentasinya pengelolaan sistem digital di Indonesia.

Beberapa tantangan utama meliputi:

  • Kapasitas keamanan siber yang belum merata
  • Koordinasi antar lembaga yang masih terbatas
  • Integrasi sistem yang belum optimal
  • Kurangnya visibilitas menyeluruh terhadap infrastruktur IT

Banyak organisasi selama 2024–2025 berfokus pada ekspansi cepat: meluncurkan platform baru, membuka akses kerja jarak jauh, serta memigrasikan sistem ke cloud.

Namun, langkah ini sering kali tidak diimbangi dengan investasi memadai pada arsitektur keamanan jangka panjang.

Akibatnya, kompleksitas sistem menumpuk dan mulai berubah menjadi risiko struktural.

Sistem Pemantauan Terpisah, Respons Insiden Melambat

Memasuki 2026, salah satu tantangan paling terasa adalah sistem pemantauan IT dan keamanan siber yang masih terpisah-pisah.

Banyak organisasi menggunakan berbagai alat berbeda untuk:

  • Memantau jaringan
  • Mengelola endpoint
  • Mengatur akses pengguna
  • Mendeteksi ancaman

Tanpa integrasi yang baik, gambaran menyeluruh kondisi sistem sulit diperoleh. Ketika insiden terjadi, proses analisis menjadi lebih lambat, respons tertunda, dan downtime pun memanjang.

Kondisi ini diperparah oleh keterbatasan talenta di bidang IT dan keamanan siber, terutama dalam mengelola lingkungan hybrid yang semakin kompleks.

Pengelolaan Identitas Jadi Titik Lemah Krusial

Adopsi cloud, integrasi pihak ketiga, dan pola kerja hybrid memperluas titik akses organisasi.

Baca Juga:  ChatGPT Go Hadir Global dengan Biaya Langganan Murah, Ini Keunggulannya

Sayangnya, pengelolaan identitas dan akses sering kali tidak terpusat.

Risiko yang muncul antara lain:

  • Hak akses tetap aktif meski sudah tidak diperlukan
  • Inkonsistensi kebijakan keamanan
  • Celah penyalahgunaan kredensial
  • Potensi kebocoran data akibat kontrol akses lemah

Di banyak organisasi, sistem identitas berkembang tanpa perencanaan strategis yang matang.

Hal ini menciptakan kesenjangan antara kebijakan keamanan dan implementasi teknis di lapangan.

Anggaran IT Meningkat, Tapi Efektivitas Dipertanyakan

Belanja teknologi digital terus naik. Namun, tanpa keselarasan antara operasional IT dan keamanan siber, investasi tersebut belum tentu menghasilkan ketahanan yang optimal.

Tumpang tindih platform, fungsi yang kurang dimanfaatkan, serta kurangnya integrasi menyebabkan biaya tinggi tanpa peningkatan keamanan yang sepadan.

Dalam tekanan ekonomi global, kondisi ini sulit dipertahankan.

Manajemen kini mulai menuntut efisiensi sekaligus peningkatan ketahanan digital.

2026: Saatnya Konsolidasi dan Integrasi Keamanan Siber

Menjelang 2026, fokus strategis perlu bergeser dari ekspansi menuju konsolidasi.

Penyatuan operasional IT dan keamanan siber dalam satu pandangan terpadu memungkinkan:

  • Deteksi ancaman lebih cepat
  • Tanggung jawab yang lebih jelas
  • Kebijakan keamanan yang konsisten
  • Otomatisasi respons insiden

Pendekatan proaktif berbasis pemantauan berkelanjutan dan dukungan AI menjadi kebutuhan, bukan lagi pilihan.

Baca Juga:  ZTE dan nubia: Inovasi AI Mentransformasi Industri Telekomunikasi

Model respons reaktif sudah tidak memadai di tengah ancaman yang semakin kompleks.

Dalam konteks ini, platform IT dan keamanan yang terintegrasi memainkan peran penting.

Dengan menyatukan pemantauan, otomatisasi, dan kepatuhan dalam satu sistem, solusi seperti yang ditawarkan ManageEngine membantu organisasi mengurangi kompleksitas, meningkatkan efisiensi, dan memperkuat praktik keamanan siber tanpa harus menambah beban teknologi baru.

Fondasi Digital Harus Lebih Kuat dari Sekadar Inovasi

Pertanyaan besar menuju 2026 bukan lagi apakah transformasi digital perlu dilanjutkan. Jawabannya jelas: ya.

Namun, yang lebih penting adalah apakah fondasi yang ada cukup kuat untuk menopang pertumbuhan berikutnya?

Ke depan, organisasi yang mampu:

  • Menyederhanakan sistem
  • Mengintegrasikan keamanan siber sejak awal
  • Mengoptimalkan investasi teknologi
  • Memanfaatkan AI untuk deteksi dan respons

akan menjadi pemenang di era ekonomi digital.

Sebaliknya, menunda pembenahan struktural hanya akan memperbesar risiko di tengah ketergantungan digital yang semakin tinggi.

Transformasi digital tanpa keamanan siber yang kuat ibarat membangun gedung tinggi tanpa fondasi kokoh.

Inovasi memang penting, tetapi ketahanan adalah kunci keberlanjutan.


Cek berita teknologi terkini, review gadget, rekomendasi ponsel, tips & trick, tren lifestyle dan video tabloidpulsa.id di Google News.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here