Home TEKNO Mengenal Ragam Codec Audio Bluetooth (Updated)

Mengenal Ragam Codec Audio Bluetooth (Updated)

Audio Bluetooth codec OPPO Enco AIr

tabloidpulsa.id – Seperti sudah kompakan, beberapa ponsel flagship mengorbankan colokan audio 3.5 mm demi tampilan yang mewah. Hal ini kemudian memaksa pengguna ponsel untuk beralih ke perangkat audio Bluetooth, baik untuk mendengarkan musik ataupun sebagai alat bantu bercakap tanpa kabel.

Melihat teknologinya yang terus berkembang maka hal ini dirasa wajar meski kurang disukai penggemar audio High Definition. Dan kami menemukan beberapa pengguna awam, masih membingungkan beberapa informasi di spesifikasi perangkat ponsel atau produk Bluetooth headset.

Salah satunya adalah mengenai codec. Karena hal ini terkait juga dengan kualitas audio yang bisa tertransmisi. Tapi perlu diingat bahwa codec bukan satu-satunya faktor akan kualitas sebuah produk headset Bluetooth. Ada faktor lain yang bisa menentukan kualitas sebuah TWS.

Semisal bagaimana produk tersebut didesain, ukuran driver, serta bagaimana racikan software dan hardware yang bertanggung jawab untuk menghantarkan musik ke telinga kita.

Untuk saat ini, aman rasanya jika kita menyebut bahwa ada dua codec yang pasti hadir di perangkat headset Bluetooth, yakni SBC dan AAC. Seperti juga yang bakal dibawa oleh TWS anyar OPPO yang akan diluncurkan awal Juli depan.

Tapi disamping dua codec tadi, ada beberapa codec lain yang umum hadir di sejumlah perangkat Bluetooth.

Tapi sebelum ke sampai membahas jenis-jenis codec kita akan mulai obrolan kali ini dengan pengertian codec itu sendiri.

Apa itu Codec?

Codec merupakan singkatan dari coder-decoder, dalam bahasa sederhana bisa juga diartikan sebagai standar kompresi dan dekompresi media digital, semisal audio dan video. Dibutuhkan untuk mengubah, menyederhanakan atau menyesuaikan sebuah file digital agar bisa dikirim dan ditampilkan di sebuah perangkat dengan baik.

Baik di sini bisa berati lebih cepat, dengan mengurangi waktu transmisi, atau kualitas yang paling pas untuk perangkat tanpa mengubah secara signifikan file yang dikompres tadi.

Perkembangan pada teknologi codec ini yang kemudian akan terus berupaya untuk mengurangi pengurangan kualitas dari file asli hingga sampai ke perangkat yang dituju.

Istilah-Istilah pada Codec

Saat membicarakan codec, kita akan menemukan beberapa istilah yang umum ditemukan. Hal ini terkait dengan standar pengurangan atau penyesuaian yang dilakukan oleh sebuah codec. Istilah-istilah tersebut adalah:

Bitrate: Biasa ditunjukkan dengan satuan kbps (kilobits per second). Mengacu pada jumlah bit unit data yang diproses dalam satuan waktu tertentu (detik).

Sample rate: Ditunjukkan dengan satuan Hz. Merupakan frekuensi, atau jumlah titik data per detik dalam sebuah file audio.

Bit Depth: Biasa diperlihatkan dengan satuan bit. Merupakan jumlah bit data yang ada dalam sebuah sample audio. Bit Depth juga memperlihatkan resolusi sebuah file audio.

Sebuah file audio akan menampilkan tiga parameter ini di info file mereka. Sebagai contoh, rata-rata file m4a atau mp3 yang memiliki kualitas CD ada di 16 bit, dengan sample rate 44.1 kHz danbit rate 320 kbps. Banyak yang bilang ini adalah angka standar mendapatkan audio berkualitas dari perangkat Bluetooth. Akan kita bahas di bagian jenis-jenis codec.

Jenis Codec Bluetooth

Sampai tulisan ini dibuat setidaknya ada 8 jenis codec yang biasa ditemukan di perangkat Bluetooth dan ponsel. Apa saja?

SBC (Low Complexity Sub-band Codec): Merupakan standar awal codec Bluetooth sebagai kebutuhan minimum profil A2DP. Namanya juga standar awal, yang dibuat untuk mendukung kualitas audio dengan bit rate medium dan meminimalisir gangguan saat streaming.

AAC (Advanced Audio Coding): merupakan standar kompresi audio lossy yang bebas lisensi. Youtube dan Apple memilih menggunakan codec ini. Bahkan iPhone diketahui mampu menampilkan kualitas audio AAC paling baik.

Perangkat Android juga mendukung codec ini meskipun pada awal pengembangannya masih dianggap belum mampu menyamai AAC di iPhone karena masalah fragmentasi di perangkat Android dan kebutuhan daya yang relatif tinggi dibandingkan codec lain.

aptX (dan turunannya): Qualcomm mengembangkan codec audio Bluetooth sendiri yang diberi nama aptX, aptX LL (low latency) dan aptX HD. Codec yang cukup awam bagi pengguna Android. aptX sendiri mendukung data audio 16 bit, 48kHz LCPM atau bitrate 352 kbps. Sementara aptX HD bisa mendukung data audio 24 bit, 48kHz atau bitrate 576 kbps.

LDAC: Merupakan codec yang dikembangkan oleh Sony. Membawa fitur variabel bitrate yang bekerja di 3 mode, yakni 990 kbps, 660 kbps dan 330 kbps. Mode yang ketiga (330 kbps) sebenarnya kalah dengan kualitas codec SBC, sayangnya beberapa ponsel yang mendukung LDAC secara default justru menggunakan mode ini.

LHDC (Low Latency High Definition Audio Codec) dan LLAC: LHDC merupakan codec yang dikembangkan oleh HWA (Hi-res Wireless Audio) Union dan Savitech. Menawarkan transmisi data yang 3 kali lebih besar dari SBC dan mendukung bitrate maksimal di angka 900 kbps. Pertama kali diadopsi oleh Huawei Mate 10.

OPPO Find X2 Pro merupakan salah satu produk ponsel terkini dengan dukungan codec tersebut, termasuk TWS OPPO Enco X yang dikembangkan bersama Dynaudio. Menjadikannya pasangan ponsel-TWS yang paling pas dari kubu OPPO dengan dukungan LHDC.

Codec lainnya dari HWA adalah LLAC atau LHDC LL, merupakan alternatif dari LHDC dengan kemampuan low latency yang makin ditingkatkan hingga 30 ms dalam bitrate 400/600 kbps.

L2HC: Merupakan codec hasil pengembangan Huawei yang menyediakan bandwidht yang luas dan bitrate yang adaptif (320 hingga 960 kbps), mirip LDAC. Codec ini membawa low latency, bitrate yang konstan, kemampuan anti interference yang kuat, SNR (signal to noise ratio) yang tinggi dan range yang dinamis. Produk-produk Huawei dan Honor terbaru membawa codec ini, baik ponsel maupun beberapa seri freebuds premium mereka.

LC3: atau disebut juga Bluetooth LE Audio LC3 Codec. Masih belum banyak informasi mengenai codec ini, yang pasti LC3 mampu mengirimkan sinyal berbeda pada dua channel perangkat TWS yang sama.

Scalable: Merupakan codec hasil pengembangan Samsung. Fungsinya mirip-mirip dengan aptX adaptive, tetapi hanya kompatibel antar perangkat Samsung saja. Codec Scalable mampu mencegah audio yang patah-patah dengan cara menganalisa frekuensi radio di sekitar kemudian menyesuaikan bitrate secara dinamis (dari 88 kbps hingga 512 kbps).

dari beberapa sumber

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here